Awal Setelah Akhir
Tak pernah terbayang aku menulis hanya untuk melepas masa lajang dan membuat keputusan untuk memiliki teman hidup di usiaku yang baru seperempat abad. Konyol kataku pada diri sendiri—yang kala itu baru memasuki awal 20-an—yang pernah memiliki pernyataan “Sepertinya tidak buruk untuk tidak menikah hingga usia 30 tahun”. Namun, ternyata momen indah tetapi ironi—bila disangkutkan dengan perkataanku sebelumnya—datang padaku. Tuhan mempertemukanku dengan wanita dari keluarga yang serba ada dan menyatukan kami melalui hubungan percintaan yang lucunya diperantarai oleh aplikasi kencan berwarna kuning. Dan yang lebih mengherankan, dia adalah kawan seangkatan sekolah menengah pertamaku dan sama-sama menjadi anggota organisasi siswa intra sekolah. “Wow, nampaknya dunia ini selebar daun kelor” ucapku satir.
Sedikit kilas balik, setelah paruh pertama 2024 diwarnai dengan kegagalan romansa yang menguatkan pernyataan tololku sebelumnya, tampaknya aku mulai memiliki alasan untuk mematahkannya persis di akhir tahun. Masih belum terbayang dengan perkawinan, aku nothing to lose. “Jika memang masih gagal, ya sudahlah” selalu aku rapalkan. Namun, tampaknya hilal romansa bernuansa kemegahan aransemen dan lirik Semua lagu cinta milik Sal Priadi mulai tercium semerbak bermekaran.
Kembali ke cerita, kami memutuskan bertemu setelah aku menemukan alasan yang kurang lebih masuk akal untuk dilakukan bersama. Ya, aku mengajaknya untuk jalan kaki mengelilingi lintasan aspal stadion di daerah kami. Panjang lebar obrolan kami yang didominasi oleh topik kilas balik ke masa SMP, ada satu obrolan yang membuatku membatin “sepertinya intimasi kami untuk membentuk kemistri akan sulit”, hal tersebut ditengarai ia akan melawat ke rumah kakaknya di luar kota. Tapi tak apalah kan sekarang teknologi sudah terakselerasi sedemikian rupa sehingga aku bisa melakukan panggilan video dengan alibi ingin mengetahui kegemasan keponakan perempuan yang diceritakannya.
Seselesainya kencan pertama kami, aku meminta umpan balik padanya dan dijawab secara padat. Dia menunggu kencan kedua. Pun aku yang tak kreatif ini menjawab persis hanya mengimbuhi “kedua dan setelah-setelahnya”.
Berselang tiga hari kami (aku sebenarnya) memutuskan untuk melakukan kencan kedua di tempat paling umum, toko kopi. Dengan hanya bermodal kekerenan yang kumiliki aku meminjam mobil ibu karena hujan rintik pada saat itu tak disangka memberi rezeki pada tumbuhan, sehingga untuk menjaga nama baik maskulinitasku aku tidak akan membiarkan setitikpun air mengenai sehelai benang yang menyusun kain yang dikenakan oleh seseorang yang pada hari ini menjadi istriku. Singkatnya, obrolan kami kali ini lebih mengalir. Hal tersebut ditandai oleh perangaiku yang selalu mengejeknya saat bermain kartu UNO meskipun akulah yang selalu kalah. Dan setelah itu hari-hari kamipun diisi melalui pesan dan panggilan secara daring sepanjang kurang lebih 45 hari.
Saat ia pulang aku menjemputnya di stasiun lalu mengantarnya pulang. Dan bertemulah aku dengan ibunya. Pada umumnya interaksi pertama, terasa kaku dan canggung—ditandai dengan aku melakukan aktivitas tanpa tujuan pada gawaiku. Lalu berselang beberapa hari aku ingin mengapelinya ternyata ada paman, bibi, sepupu (meskipun belum lengkap), dan duar, ayah mertuaku. Yang entah apa hanya aku saja atau pria lain pula, selalu dihantui betapa menakutkannya sosok ayah dari putri yang ingin dipacari. Ya meskipun itu hanya stereotip yang dibentuk oleh paparan serial percintaan dan komedi.
Tak lama ada syukuran ulang tahun ayah dan ibu mertua serta acara hari raya idul fitri yang turut mengundangku untuk datang dan bertemu dengan keluarga (dari sisi ibu) yang bisa kubilang sangat besar. Singkatnya ibu mertuaku memiliki tujuh saudara kandung dan pasanganku memiliki sepupu dengan jumlah (relatif) banyak. Beribu-ribu kalimat thayyibah tergumam melihat perbedaan jumlah anggota keluarga tiga generasi, yang kusadari akan menjadi pengisi kesepian anak semata wayang ini. Syukurnya meskipun aku ketara sekali menutupi rasa tekanan—yang aku ciptakan sendiri dengan sok asik tetapi tetap sopan—aku merasa diterima dengan baik oleh mereka.
Hampir dua tahun dan tiga evaluasi semesteran kami lalui sebelum menuju jenjang sakral bernama pernikahan. Selama hubunganku seringkali egoku meronta untuk keluar dari belenggu tenggorokan untuk membentuknya menjadi sesuai imajinasi ideal kepalaku. Meskipun selalu kuusahakan untuk menahannya karena aku sadar bukan itu esensi cinta yang dalam.
Juga tak pernah kusangka, kepala besarku yang selalu congkak menceramahi ternyata banyak belajar melaluinya. Kukira untuk mencapai pijakan terbaik ada pada hasil yang kutentukan di awal. Sedangkal itu lah aku dahulu. Akhir-akhir ini aku sadar, barangkali yang lebih dalam adalah keindahan yang terasa pada proses karena melaluinya dengan orang yang pantas, seberat apapun akan terasa setimpal untuk dilalui.
Sejauh perjalanan yang kutempuh, hasil adalah sebuah efek samping dari sistematika yang kubuat—dan pasti kuperbaiki setiap penemuan atas hal yang perlu disempurnakan—dalam menjalani sebuah proses dan sejauh ini aku percaya bahwa Nana lah yang bisa banyak membantuku membuat sistem yang elastis.
Masih tak kusangka aku menikahi perempuan yang kuinterpretasikan secara konsisten bahwa dialah satu-satunya muara perempuan cantik (selain ibuku) yang paling tepat, selain bawaannya yang penyabar dan keibuan.
Selalu timbul percikan air mata ketika mengingat betapa beruntungnya aku bertemu dia. Hampir semua aspek preferensi kami bertolak belakang. Dia suka buah yang manis sedangkan aku yang asam. Aku menyukai musik yang berada sedikit di bawah tanah, ia pop. Dan blablabla.
Aku yang awalnya tak banyak berharap ini akan berhasil, ternyata sekarang ada pada titik tertinggi dalam hubungan romansa kami, yang semoga kekal. Aamiin.
Satu penawaran yang bisa kurumuskan, akan ada waktu kita menemui orang yang entah mengapa kita rasa tepat untuk melalui dunia dengan segala ketumpangtindihan dan ketidakpastian yang dimilikinya.
Terima kasih Nana, berkatmu aku belajar banyak hal terutama soal kehidupan. Semoga aku dan Nana selalu memiliki dan menemukan cara bertahan atas terpaan apapun dalam perjalanan yang kita lalui, seperti yang pernah kita lakukan, berkompromi atas cara membagi perasaan dan beban yang kumiliki—yang setelah kejadiannya diungkapkan oleh Nana pertengkaran kami bisa saja menjadi akhir dari hubungan tersebut apabila aku tetap bersikeras untuk menanggung semuanya sendirian, lalu tetap bertahan meskipun kehilangan tabungan yang disebabkan oleh kelalaian diriku sendiri.
Nana, mari kita arungi bagian baru kehidupan di dunia ini dengan cara apapun. Semoga kebaikan selalu mengelilingi kita.